Di atas permukaan, api mungkin tampak telah padam. Asap perlahan menghilang, tanah terlihat tenang. Akan tetapi, di balik lapisan tanah gambut, api dapat tetap membara dan menjalar. Api itu dapat bertahan di dalam tanah, menunggu kesempatan untuk muncul kembali.
Gambut memang bukan tanah biasa. Ia menyimpan air, karbon, dan kehidupan yang saling terhubung. Ketika ekosistem ini rusak, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan atau munculnya kabut asap. Sumber pangan masyarakat, keanekaragaman hayati, hingga kebiasaan makan yang diwariskan antargenerasi ikut menghadapi ancaman.
Persoalan inilah yang mengemuka dalam webinar Ecoblogger Squad (EBS) bersama Pantau Gambut dan Food Nation Biodiversity pada Jumat, 16 Oktober 2026. Diskusi tersebut mengajak peserta melihat hubungan antara kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kerusakan gambut, serta keberlanjutan pangan dari sudut pandang yang lebih luas.
Melalui penjelasan Yoga Aprilliano dari Pantau Gambut dan Ahmad Arif dari Food Nation Biodiversity, satu pesan penting muncul. Menjaga lingkungan bukan hanya soal menyelamatkan hutan. Ini juga tentang menjaga apa yang kelak tersaji di meja makan.
Api yang Padam di Permukaan, tetapi Masih Hidup di Dalam Gambut
Yoga Aprilliano mengingatkan bahwa kebakaran di lahan gambut memiliki karakter yang berbeda dari kebakaran di lahan mineral. Api tidak selalu terlihat jelas. Pada keadaan khusus, sisa api atau bara dapat bertahan di dalam lapisan tanah, sehingga menyulitkan proses pemadaman konvensional.
“Gambut itu tebal, bayangkan kalau ada tiga meter. Dari lantai sampai plafon rumah teman-teman itu semuanya gambut, itu terbakar. Jadi, tidak hanya ada di permukaan apinya, tapi di bawah tanah.”
Gambut terbentuk dari timbunan sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan tidak sempurna selama waktu yang sangat panjang. Secara alami, ekosistem lahan gambut memiliki kapasitas penyerapan air yang sangat tinggi. Kendati demikian, pembuatan saluran drainase yang merusak tata kelola air dapat menyebabkan area tersebut mengering dan berisiko tinggi memicu kebakaran.
Perambatan api di bagian dalam lahan gambut relatif sulit dimatikan. Kucuran air dari atas permukaan tanah belum tentu sanggup menembus titik api di dasar bawah tanah. Oleh karena itu, hujan atau pemadaman dari udara tidak selalu menyelesaikan persoalan.
Berdasarkan jurnal Current Opinion in Environmental Science & Health (2021), kebakaran pada lahan gambut yang terjebak hingga kedalaman beberapa meter di bawah tanah membuat keberadaannya sangat sukar dikenali secara langsung oleh petugas di lokasi.
Hasil penelitian laboratorium yang tercantum dalam Alexandria Engineering Journal (2022), juga menemukan bahwa penyuntikan air langsung ke titik gambut yang terbakar dapat lebih efisien daripada penyemprotan air dari permukaan. Namun, penerapannya di lapangan tetap memiliki tantangan tersendiri.
Saat api menjalar dengan cepat dan meluas, intervensi water bombing udara tetap berpotensi menjadi bagian penting dari langkah pemadaman. Hujan juga meningkatkan kelembapan lahan. Akan tetapi, keduanya tidak bisa diandalkan sebagai satu-satunya solusi.
Risikonya semakin besar ketika El Niño memicu kondisi lebih kering. Ketersediaan air berkurang, sedangkan gambut yang kehilangan kelembapannya semakin mudah terbakar. Bahkan, hujan yang turun belum tentu mampu membasahi seluruh lapisan gambut hingga titik api di bawah tanah.
Situasi tersebut menunjukkan mengapa penanganan karhutla tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman setelah api muncul. Pencegahan harus dilakukan sebelum kebakaran terjadi.
Menjaga tinggi muka air, memulihkan tata air gambut, mendeteksi titik panas sejak dini, dan melibatkan masyarakat dalam pemantauan merupakan bagian penting dari mitigasi. Program pemulihan gambut juga menekankan pentingnya menjaga lahan tetap basah dan mengembangkan pemanfaatan yang sesuai dengan karakter ekosistemnya.
“Langkah jangka panjangnya tentu saja harus dibasahi kembali secara alami.”
Mengapa pencegahan menjadi begitu penting? Sebab, ketika gambut terbakar, yang hilang bukan sekadar hamparan vegetasi. Kerusakan juga dapat mengganggu habitat satwa, melepaskan karbon yang tersimpan, dan mengancam kehidupan masyarakat yang bergantung pada lingkungan tersebut.
Di sinilah hubungan antara gambut dan pangan mulai terlihat. Ekosistem yang rusak dapat mengubah sumber kehidupan masyarakat. Ketika habitat menyusut, tanaman lokal ikut terancam. Ketika lingkungan kehilangan keseimbangannya, masyarakat pun semakin sulit mempertahankan cara hidup yang selama ini bergantung pada alam.
Dengan demikian, gambut bukan sekadar urusan tanah dan api. Ia juga bagian dari cerita tentang bagaimana manusia memperoleh makanan dan menjaga keberlanjutannya.
Ketika Pangan Diukur Hanya dari Beras
Hubungan antara ekosistem dan pangan tidak hanya terlihat dalam ancaman kebakaran. Hubungan itu juga tampak dalam cara masyarakat menentukan apa yang dianggap sebagai makanan pokok.
Ahmad Arif dari Food Nation Biodiversity mengajak peserta melihat kembali kebiasaan makan masyarakat Indonesia. Selama ini, nasi seolah menjadi ukuran utama sebuah hidangan. Seseorang bahkan bisa merasa belum makan meskipun sudah mengonsumsi makanan lain.
Ungkapan yang akrab di telinga masyarakat Indonesia adalah, “Belum makan kalau belum makan nasi.”
Namun, benarkah nasi satu-satunya makanan yang layak disebut makanan pokok?
Jejak historis kuliner di Indonesia menyimpan keanekaragaman yang jauh lebih luas. Di berbagai wilayah, masyarakat mengandalkan sagu, umbi-umbian, jagung, dan aneka tanaman lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pilihan tersebut tumbuh dari pengetahuan masyarakat tentang lingkungan, iklim, dan tanaman yang tersedia di sekitar.
Sagu menjadi salah satu contoh penting. Tanaman ini telah lama menjadi sumber pangan masyarakat di wilayah timur Indonesia, terutama Papua dan Maluku. Pengolahannya juga melahirkan tradisi kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam diskusi tersebut, Ahmad mengangkat pandangan bahwa sejarah pangan Indonesia lebih beragam daripada yang dibayangkan banyak orang. Ia juga menyinggung kemungkinan hubungan antara kata sego (nasi) dalam bahasa Jawa, sangu (nasi) dalam bahasa Sunda, dan kata sagu.
Hubungan etimologis itu menarik untuk ditelusuri. Namun, asal-usul kata tersebut perlu diperiksa melalui kajian linguistik sebelum disampaikan sebagai fakta sejarah yang pasti.
“Makanan kita yang beragam di masa lalu sebenarnya adalah cerminan dari keberagaman budaya pangan masyarakat lokal dalam beradaptasi terhadap lingkungan mereka yang berbeda-beda.”
Keberagaman pangan bukan sekadar persoalan selera. Ia berkaitan dengan kemampuan masyarakat bertahan menghadapi perubahan lingkungan, gangguan distribusi, dan ketidakpastian produksi pertanian.
Ketika kebutuhan pangan terlalu bergantung pada satu komoditas, gangguan terhadap produksi atau distribusinya dapat berdampak luas. Sebaliknya, sumber pangan yang beragam membuka lebih banyak pilihan bagi masyarakat.
Meski demikian, diversifikasi pangan tidak berarti beras harus ditinggalkan. Persoalannya adalah memberikan ruang yang setara bagi sumber karbohidrat lain agar masyarakat memiliki pilihan yang sesuai dengan kebutuhan, kondisi lingkungan, dan tradisi setempat.
Ahmad juga mengajak peserta melihat bagaimana kebijakan ekonomi dan politik dapat membentuk pola konsumsi. Ketika produksi, distribusi, harga, dan kebijakan pangan lebih mengutamakan komoditas tertentu, masyarakat perlahan terbiasa menganggapnya sebagai pilihan utama.
Beras dan tepung gandum kemudian mendominasi banyak hidangan. Sementara itu, berbagai bahan pangan lokal semakin jarang hadir di meja makan, meskipun sebagian masih tumbuh di lingkungan masyarakat.
Proses ini tidak terjadi hanya karena perubahan selera. Ada sistem produksi, perdagangan, kebijakan, dan kebiasaan sosial yang turut membentuknya.
“Kebijakan pangan kita yang cenderung menyeragamkan, sepertinya hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan pangan pokok. Itu sebenarnya memicu persoalan yang cukup serius, kalau kita bicara dalam aspek pemenuhan gizi.”
Persoalannya semakin penting ketika dikaitkan dengan kerusakan lingkungan. Ketika masyarakat kehilangan pengetahuan tentang pangan lokal, pilihan yang tersedia juga semakin sempit. Pada saat yang sama, perubahan bentang alam dapat menghilangkan tanaman dan habitat yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Oleh karena itu, keberagaman pangan perlu dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus merawat biodiversitas.
Food Estate dan Pertanyaan tentang Cara Kita Memproduksi Pangan
Keinginan memperkuat ketahanan pangan sering kali diwujudkan melalui peningkatan produksi dalam skala besar. Salah satu pendekatan yang banyak dibicarakan adalah food estate, yaitu pengembangan kawasan pertanian pangan dalam skala luas.
Tujuannya terdengar menjanjikan. Produksi diharapkan meningkat, pasokan pangan terjaga, dan kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi.
Namun, persoalannya tidak sesederhana membuka lahan, lalu menanam komoditas sebanyak-banyaknya.
Pengembangan pertanian di kawasan hutan dan gambut dapat menimbulkan risiko serius jika tidak mempertimbangkan karakter ekosistem. Gambut memiliki kondisi hidrologis yang khas. Pengeringan dan perubahan tata air untuk kepentingan pertanian dapat meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran.
Kajian World Resources Institute (WRI) Indonesia mengenai food estate menyoroti risiko pengembangan kawasan pangan di lahan gambut. Kajian tersebut mempertanyakan efektivitas pendekatan ini jika persoalan mendasar, seperti kondisi lahan dan keberlanjutan lingkungan, tidak ditangani.
Catatan mengenai program-program terdahulu juga menunjukkan bahwa target produksi besar tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan di lapangan. Sejumlah proyek pengembangan pangan skala besar menghadapi persoalan produktivitas, tata kelola, dan kesesuaian lahan.
Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah ketahanan pangan hanya ditentukan oleh seberapa luas lahan yang dibuka dan seberapa banyak komoditas yang ditanam?
Bagaimana jika keberhasilan juga diukur dari kemampuan masyarakat mempertahankan sumber pangan lokal, menjaga ekosistem, dan memperoleh makanan yang bergizi?
Lahan yang luas tidak otomatis menjamin produksi yang berhasil. Tanaman membutuhkan kondisi yang sesuai. Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kawasan.
Oleh karena itu, kritik terhadap food estate bukan berarti menolak upaya meningkatkan produksi pangan. Kritik tersebut mengajak kita meninjau kembali cara mencapainya.
“Masyarakat yang dulu memiliki keragaman sumber pangan, kemudian menjadi hanya bergantung pada beras dan gandum. Ketika itu terjadi, hutan mereka ditebang, sagu diambil, pola konsumsi menjadi bergeser”
Pangan seharusnya tidak dipisahkan dari ekosistem yang menopangnya. Hutan, gambut, sungai, kebun, dan ladang bukan hanya ruang produksi. Semuanya juga menjadi bagian dari sistem kehidupan yang menentukan keberlanjutan sumber pangan.
Perspektif ini membawa kita kembali pada pertanyaan sederhana: jika beras bukan satu-satunya pilihan, Makan sumber pangan lokal apa yang masih dapat dirawat dan dikembangkan?
Di Probolinggo, Jawa Timur, salah satu pintu masuk untuk menjawabnya adalah mbote.
Mbote Probolinggo: Umbi Sederhana dengan Potensi Besar
Di tengah pembicaraan tentang gambut dan keberagaman pangan, mbote mengingatkan kita bahwa alternatif nasi tidak selalu berasal dari tanaman yang jauh atau bahan pangan yang sulit ditemukan. Ada umbi-umbian yang tumbuh di sekitar masyarakat dan telah lama dikenal dalam kehidupan sehari-hari.
Mbote merupakan sebutan yang dikenal di sejumlah wilayah Jawa Timur untuk umbi kimpul atau talas Belitung. Tanaman ini memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott dan termasuk keluarga talas-talasan atau Araceae. Di daerah lain, umbi ini dikenal dengan nama bothe, bentul, busil, dan kimpul. Penyebutan lokalnya dapat berbeda antardaerah.
Tanamannya memiliki daun lebar dengan tangkai yang panjang. Bagian yang dimanfaatkan sebagai pangan adalah umbinya. Umbi mbote mengandung pati yang dapat menjadi sumber energi bagi tubuh.
Karakteristiknya cukup sederhana. Setelah dimasak hingga matang, tekstur umbi menjadi empuk dan padat. Rasanya cenderung gurih dengan cita rasa khas umbi-umbian. Mbote dapat dinikmati dengan cara direbus atau dikukus. Umbi ini juga dapat diolah menjadi keripik, perkedel, dan berbagai makanan lainnya.
Sebagai sumber karbohidrat, mbote bisa menjadi alternatif nasi dalam menu sehari-hari. Kandungan karbohidratnya menyediakan energi, sedangkan serat dan sejumlah mineral turut melengkapi nilai gizinya. Meski demikian, kandungan zat gizi bergantung pada varietas, kondisi umbi, dan cara pengolahannya.
Merujuk pada Journal of Chemical Engineering (2023), kadar karbohidrat pada umbi mbote tergolong tinggi, yakni sebesar 34,2 g/100 g. Sementara itu, persentase pati yang dimilikinya mencakup 77,9 persen.
Umbi ini perlu dimasak dengan benar. Mbote dapat mengandung kristal kalsium oksalat yang menyebabkan sensasi gatal jika penanganannya tidak tepat. Oleh karena itu, mbote tidak sebaiknya dikonsumsi mentah. Pengupasan dan pemasakan hingga matang merupakan bagian penting dari pengolahannya.
Dari Kebun ke Meja Makan
Potensi mbote tidak berhenti pada kemampuannya menggantikan sebagian konsumsi nasi. Umbi ini juga membuka peluang untuk mengembangkan makanan lokal yang sesuai dengan selera masa kini.
Di rumah, mbote dapat disajikan sebagai pengganti nasi dengan lauk berupa sayuran, ikan, telur, atau sumber protein lainnya. Umbi yang telah dikukus juga dapat dihaluskan menjadi perkedel. Jika dipotong tipis dan diolah dengan tepat, mbote bisa menjadi keripik untuk camilan keluarga.
Pengolahan menjadi tepung juga berpotensi memperluas penggunaannya. Tepung umbi dapat dimanfaatkan dalam berbagai resep, meskipun karakteristiknya berbeda dari tepung gandum dan tidak selalu dapat menggantikannya secara langsung. Pengembangan produk semacam ini dapat menjadi jalan untuk meningkatkan nilai tambah pangan lokal.
Namun, diversifikasi pangan tidak cukup berhenti pada penciptaan resep baru. Petani juga perlu memperoleh manfaat ekonomi. Pasar harus terbuka bagi hasil panen mereka. Pengetahuan tentang budidaya dan pengolahan perlu diwariskan agar tanaman tersebut tidak hilang dari kehidupan generasi berikutnya.
Di sinilah peran masyarakat menjadi penting. Memasak mbote, mengenalkannya kepada anak-anak, dan membeli hasil panen petani lokal merupakan langkah sederhana untuk menjaga keberadaannya.
Menjaga Tradisi, Merawat Identitas Lokal
Pangan bukan sekadar urusan perut. Di balik sebuah hidangan, terdapat pengetahuan tentang musim tanam, cara memilih bahan, teknik memasak, dan kebiasaan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Merawat tradisi pangan berarti memberi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan pengetahuannya. Dukungan terhadap petani, pengenalan makanan lokal kepada generasi muda, dan pengembangan pasar dapat membantu menjaga keberlanjutan tanaman pangan.
Langkah tersebut juga perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Tidak semua tanaman cocok ditanam di semua jenis lahan. Oleh karena itu, pelestarian pangan lokal harus tetap mempertimbangkan karakter tanah, ketersediaan air, dan kebutuhan ekosistem.
Menjaga Gambut, Menjaga Pilihan di Meja Makan
Diskusi antara Pantau Gambut dan Food Nation Biodiversity membawa kita pada satu pemahaman penting. Krisis lingkungan dan krisis pangan bukan dua persoalan yang berdiri sendiri.
Ketika gambut rusak dan terbakar, masyarakat menghadapi risiko kehilangan habitat, sumber kehidupan, dan potensi pangan. Ketika konsumsi semakin seragam, kita juga berisiko mengabaikan pengetahuan lokal yang selama ini memudahkan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya di sekitarnya.
Oleh karena itu, menjaga gambut perlu berjalan beriringan dengan upaya merawat keberagaman pangan. Mitigasi karhutla, pemulihan tata air, perlindungan biodiversitas, dan penguatan pangan lokal merupakan bagian dari pekerjaan yang saling berkaitan.
Kita tidak harus langsung mengubah seluruh kebiasaan makan untuk memulainya. Kita bisa mulai dengan mengenali kembali pangan yang tumbuh di sekitar kita. Mbote, sagu, jagung, dan berbagai umbi lokal lainnya layak memperoleh tempat dalam percakapan tentang masa depan pangan Indonesia.
Pada akhirnya, apa yang kita makan akan membawa kita kembali pada pertanyaan yang sederhana, alam seperti apa yang ingin kita wariskan?
Sebab, di balik sepiring nasi maupun sepiring mbote, ada tanah, air, tanaman, dan tangan-tangan manusia yang bekerja untuk menghadirkan makanan. Menjaga semuanya berarti menjaga kemungkinan agar generasi mendatang tetap memiliki pilihan.
Pangan yang beragam tumbuh dari alam yang terjaga. Dan alam yang terjaga membutuhkan pilihan-pilihan yang tidak selalu seragam.
Sumber referensi:
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8660648/
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S111001682200415X
https://wri-indonesia.org/en/insights/3-types-peatlands-avoid-food-estate-program
https://jurnal.untagsmg.ac.id/index.php/chemtag/article/download/4439/2181














