inimelynda
inimelynda
  • Home
  • Achievements
  • Portfolio
  • Features
    • Environmental
    • Writing
      • Tips and Tricks
      • Review
    • Marine
    • Lifestye
  • Contact
Ketika Gambut Terbakar, Pangan Lokal Ikut Terancam

Di atas permukaan, api mungkin tampak telah padam. Asap perlahan menghilang, tanah terlihat tenang. Akan tetapi, di balik lapisan tanah gambut, api dapat tetap membara dan menjalar. Api itu dapat bertahan di dalam tanah, menunggu kesempatan untuk muncul kembali.

Gambut memang bukan tanah biasa. Ia menyimpan air, karbon, dan kehidupan yang saling terhubung. Ketika ekosistem ini rusak, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan atau munculnya kabut asap. Sumber pangan masyarakat, keanekaragaman hayati, hingga kebiasaan makan yang diwariskan antargenerasi ikut menghadapi ancaman.

Persoalan inilah yang mengemuka dalam webinar Ecoblogger Squad (EBS) bersama Pantau Gambut dan Food Nation Biodiversity pada Jumat, 16 Oktober 2026. Diskusi tersebut mengajak peserta melihat hubungan antara kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kerusakan gambut, serta keberlanjutan pangan dari sudut pandang yang lebih luas.

Melalui penjelasan Yoga Aprilliano dari Pantau Gambut dan Ahmad Arif dari Food Nation Biodiversity, satu pesan penting muncul. Menjaga lingkungan bukan hanya soal menyelamatkan hutan. Ini juga tentang menjaga apa yang kelak tersaji di meja makan.

Api yang Padam di Permukaan, tetapi Masih Hidup di Dalam Gambut

Yoga Aprilliano mengingatkan bahwa kebakaran di lahan gambut memiliki karakter yang berbeda dari kebakaran di lahan mineral. Api tidak selalu terlihat jelas. Pada keadaan khusus, sisa api atau bara dapat bertahan di dalam lapisan tanah, sehingga menyulitkan proses pemadaman konvensional.

“Gambut itu tebal, bayangkan kalau ada tiga meter. Dari lantai sampai plafon rumah teman-teman itu semuanya gambut, itu terbakar. Jadi, tidak hanya ada di permukaan apinya, tapi di bawah tanah.”

Gambut terbentuk dari timbunan sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan tidak sempurna selama waktu yang sangat panjang. Secara alami, ekosistem lahan gambut memiliki kapasitas penyerapan air yang sangat tinggi. Kendati demikian, pembuatan saluran drainase yang merusak tata kelola air dapat menyebabkan area tersebut mengering dan berisiko tinggi memicu kebakaran.

Perambatan api di bagian dalam lahan gambut relatif sulit dimatikan. Kucuran air dari atas permukaan tanah belum tentu sanggup menembus titik api di dasar bawah tanah. Oleh karena itu, hujan atau pemadaman dari udara tidak selalu menyelesaikan persoalan.

Berdasarkan jurnal Current Opinion in Environmental Science & Health (2021), kebakaran pada lahan gambut yang terjebak hingga kedalaman beberapa meter di bawah tanah membuat keberadaannya sangat sukar dikenali secara langsung oleh petugas di lokasi.

Hasil penelitian laboratorium yang tercantum dalam Alexandria Engineering Journal (2022), juga menemukan bahwa penyuntikan air langsung ke titik gambut yang terbakar dapat lebih efisien daripada penyemprotan air dari permukaan. Namun, penerapannya di lapangan tetap memiliki tantangan tersendiri.

Saat api menjalar dengan cepat dan meluas, intervensi water bombing udara tetap berpotensi menjadi bagian penting dari langkah pemadaman. Hujan juga meningkatkan kelembapan lahan. Akan tetapi, keduanya tidak bisa diandalkan sebagai satu-satunya solusi.

Risikonya semakin besar ketika El Niño memicu kondisi lebih kering. Ketersediaan air berkurang, sedangkan gambut yang kehilangan kelembapannya semakin mudah terbakar. Bahkan, hujan yang turun belum tentu mampu membasahi seluruh lapisan gambut hingga titik api di bawah tanah.

Situasi tersebut menunjukkan mengapa penanganan karhutla tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman setelah api muncul. Pencegahan harus dilakukan sebelum kebakaran terjadi.

Menjaga tinggi muka air, memulihkan tata air gambut, mendeteksi titik panas sejak dini, dan melibatkan masyarakat dalam pemantauan merupakan bagian penting dari mitigasi. Program pemulihan gambut juga menekankan pentingnya menjaga lahan tetap basah dan mengembangkan pemanfaatan yang sesuai dengan karakter ekosistemnya.

“Langkah jangka panjangnya tentu saja harus dibasahi kembali secara alami.”

Mengapa pencegahan menjadi begitu penting? Sebab, ketika gambut terbakar, yang hilang bukan sekadar hamparan vegetasi. Kerusakan juga dapat mengganggu habitat satwa, melepaskan karbon yang tersimpan, dan mengancam kehidupan masyarakat yang bergantung pada lingkungan tersebut.

Di sinilah hubungan antara gambut dan pangan mulai terlihat. Ekosistem yang rusak dapat mengubah sumber kehidupan masyarakat. Ketika habitat menyusut, tanaman lokal ikut terancam. Ketika lingkungan kehilangan keseimbangannya, masyarakat pun semakin sulit mempertahankan cara hidup yang selama ini bergantung pada alam.

Dengan demikian, gambut bukan sekadar urusan tanah dan api. Ia juga bagian dari cerita tentang bagaimana manusia memperoleh makanan dan menjaga keberlanjutannya.

Ketika Pangan Diukur Hanya dari Beras

Konsumsi komoditas pangan pokok nasional

Hubungan antara ekosistem dan pangan tidak hanya terlihat dalam ancaman kebakaran. Hubungan itu juga tampak dalam cara masyarakat menentukan apa yang dianggap sebagai makanan pokok.

Ahmad Arif dari Food Nation Biodiversity mengajak peserta melihat kembali kebiasaan makan masyarakat Indonesia. Selama ini, nasi seolah menjadi ukuran utama sebuah hidangan. Seseorang bahkan bisa merasa belum makan meskipun sudah mengonsumsi makanan lain.

Ungkapan yang akrab di telinga masyarakat Indonesia adalah, “Belum makan kalau belum makan nasi.”

Namun, benarkah nasi satu-satunya makanan yang layak disebut makanan pokok?

Jejak historis kuliner di Indonesia menyimpan keanekaragaman yang jauh lebih luas. Di berbagai wilayah, masyarakat mengandalkan sagu, umbi-umbian, jagung, dan aneka tanaman lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pilihan tersebut tumbuh dari pengetahuan masyarakat tentang lingkungan, iklim, dan tanaman yang tersedia di sekitar.

Sagu menjadi salah satu contoh penting. Tanaman ini telah lama menjadi sumber pangan masyarakat di wilayah timur Indonesia, terutama Papua dan Maluku. Pengolahannya juga melahirkan tradisi kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam diskusi tersebut, Ahmad mengangkat pandangan bahwa sejarah pangan Indonesia lebih beragam daripada yang dibayangkan banyak orang. Ia juga menyinggung kemungkinan hubungan antara kata sego (nasi) dalam bahasa Jawa, sangu (nasi) dalam bahasa Sunda, dan kata sagu.

Hubungan etimologis itu menarik untuk ditelusuri. Namun, asal-usul kata tersebut perlu diperiksa melalui kajian linguistik sebelum disampaikan sebagai fakta sejarah yang pasti.

“Makanan kita yang beragam di masa lalu sebenarnya adalah cerminan dari keberagaman budaya pangan masyarakat lokal dalam beradaptasi terhadap lingkungan mereka yang berbeda-beda.”

Keberagaman pangan bukan sekadar persoalan selera. Ia berkaitan dengan kemampuan masyarakat bertahan menghadapi perubahan lingkungan, gangguan distribusi, dan ketidakpastian produksi pertanian.

Ketika kebutuhan pangan terlalu bergantung pada satu komoditas, gangguan terhadap produksi atau distribusinya dapat berdampak luas. Sebaliknya, sumber pangan yang beragam membuka lebih banyak pilihan bagi masyarakat.

Meski demikian, diversifikasi pangan tidak berarti beras harus ditinggalkan. Persoalannya adalah memberikan ruang yang setara bagi sumber karbohidrat lain agar masyarakat memiliki pilihan yang sesuai dengan kebutuhan, kondisi lingkungan, dan tradisi setempat.

Ahmad juga mengajak peserta melihat bagaimana kebijakan ekonomi dan politik dapat membentuk pola konsumsi. Ketika produksi, distribusi, harga, dan kebijakan pangan lebih mengutamakan komoditas tertentu, masyarakat perlahan terbiasa menganggapnya sebagai pilihan utama.

Beras dan tepung gandum kemudian mendominasi banyak hidangan. Sementara itu, berbagai bahan pangan lokal semakin jarang hadir di meja makan, meskipun sebagian masih tumbuh di lingkungan masyarakat.

Proses ini tidak terjadi hanya karena perubahan selera. Ada sistem produksi, perdagangan, kebijakan, dan kebiasaan sosial yang turut membentuknya.

“Kebijakan pangan kita yang cenderung menyeragamkan, sepertinya hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan pangan pokok. Itu sebenarnya memicu persoalan yang cukup serius, kalau kita bicara dalam aspek pemenuhan gizi.”

Persoalannya semakin penting ketika dikaitkan dengan kerusakan lingkungan. Ketika masyarakat kehilangan pengetahuan tentang pangan lokal, pilihan yang tersedia juga semakin sempit. Pada saat yang sama, perubahan bentang alam dapat menghilangkan tanaman dan habitat yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Oleh karena itu, keberagaman pangan perlu dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus merawat biodiversitas.

Food Estate dan Pertanyaan tentang Cara Kita Memproduksi Pangan

Keinginan memperkuat ketahanan pangan sering kali diwujudkan melalui peningkatan produksi dalam skala besar. Salah satu pendekatan yang banyak dibicarakan adalah food estate, yaitu pengembangan kawasan pertanian pangan dalam skala luas.

Tujuannya terdengar menjanjikan. Produksi diharapkan meningkat, pasokan pangan terjaga, dan kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi.

Namun, persoalannya tidak sesederhana membuka lahan, lalu menanam komoditas sebanyak-banyaknya.

Pengembangan pertanian di kawasan hutan dan gambut dapat menimbulkan risiko serius jika tidak mempertimbangkan karakter ekosistem. Gambut memiliki kondisi hidrologis yang khas. Pengeringan dan perubahan tata air untuk kepentingan pertanian dapat meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran.

Kajian World Resources Institute (WRI) Indonesia mengenai food estate menyoroti risiko pengembangan kawasan pangan di lahan gambut. Kajian tersebut mempertanyakan efektivitas pendekatan ini jika persoalan mendasar, seperti kondisi lahan dan keberlanjutan lingkungan, tidak ditangani.

Catatan mengenai program-program terdahulu juga menunjukkan bahwa target produksi besar tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan di lapangan. Sejumlah proyek pengembangan pangan skala besar menghadapi persoalan produktivitas, tata kelola, dan kesesuaian lahan.

Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah ketahanan pangan hanya ditentukan oleh seberapa luas lahan yang dibuka dan seberapa banyak komoditas yang ditanam?

Bagaimana jika keberhasilan juga diukur dari kemampuan masyarakat mempertahankan sumber pangan lokal, menjaga ekosistem, dan memperoleh makanan yang bergizi?

Lahan yang luas tidak otomatis menjamin produksi yang berhasil. Tanaman membutuhkan kondisi yang sesuai. Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam perencanaan dan pengelolaan kawasan.

Oleh karena itu, kritik terhadap food estate bukan berarti menolak upaya meningkatkan produksi pangan. Kritik tersebut mengajak kita meninjau kembali cara mencapainya.

“Masyarakat yang dulu memiliki keragaman sumber pangan, kemudian menjadi hanya bergantung pada beras dan gandum. Ketika itu terjadi, hutan mereka ditebang, sagu diambil, pola konsumsi menjadi bergeser”

Pangan seharusnya tidak dipisahkan dari ekosistem yang menopangnya. Hutan, gambut, sungai, kebun, dan ladang bukan hanya ruang produksi. Semuanya juga menjadi bagian dari sistem kehidupan yang menentukan keberlanjutan sumber pangan.

Perspektif ini membawa kita kembali pada pertanyaan sederhana: jika beras bukan satu-satunya pilihan, Makan sumber pangan lokal apa yang masih dapat dirawat dan dikembangkan?

Di Probolinggo, Jawa Timur, salah satu pintu masuk untuk menjawabnya adalah mbote.

Mbote Probolinggo: Umbi Sederhana dengan Potensi Besar

umbi mbote

Di tengah pembicaraan tentang gambut dan keberagaman pangan, mbote mengingatkan kita bahwa alternatif nasi tidak selalu berasal dari tanaman yang jauh atau bahan pangan yang sulit ditemukan. Ada umbi-umbian yang tumbuh di sekitar masyarakat dan telah lama dikenal dalam kehidupan sehari-hari.

Mbote merupakan sebutan yang dikenal di sejumlah wilayah Jawa Timur untuk umbi kimpul atau talas Belitung. Tanaman ini memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott dan termasuk keluarga talas-talasan atau Araceae. Di daerah lain, umbi ini dikenal dengan nama bothe, bentul, busil, dan kimpul. Penyebutan lokalnya dapat berbeda antardaerah.

Tanamannya memiliki daun lebar dengan tangkai yang panjang. Bagian yang dimanfaatkan sebagai pangan adalah umbinya. Umbi mbote mengandung pati yang dapat menjadi sumber energi bagi tubuh.

Karakteristiknya cukup sederhana. Setelah dimasak hingga matang, tekstur umbi menjadi empuk dan padat. Rasanya cenderung gurih dengan cita rasa khas umbi-umbian. Mbote dapat dinikmati dengan cara direbus atau dikukus. Umbi ini juga dapat diolah menjadi keripik, perkedel, dan berbagai makanan lainnya.

Sebagai sumber karbohidrat, mbote bisa menjadi alternatif nasi dalam menu sehari-hari. Kandungan karbohidratnya menyediakan energi, sedangkan serat dan sejumlah mineral turut melengkapi nilai gizinya. Meski demikian, kandungan zat gizi bergantung pada varietas, kondisi umbi, dan cara pengolahannya.

Merujuk pada Journal of Chemical Engineering (2023), kadar karbohidrat pada umbi mbote tergolong tinggi, yakni sebesar 34,2 g/100 g. Sementara itu, persentase pati yang dimilikinya mencakup 77,9 persen.

Umbi ini perlu dimasak dengan benar. Mbote dapat mengandung kristal kalsium oksalat yang menyebabkan sensasi gatal jika penanganannya tidak tepat. Oleh karena itu, mbote tidak sebaiknya dikonsumsi mentah. Pengupasan dan pemasakan hingga matang merupakan bagian penting dari pengolahannya.

Dari Kebun ke Meja Makan

Potensi mbote tidak berhenti pada kemampuannya menggantikan sebagian konsumsi nasi. Umbi ini juga membuka peluang untuk mengembangkan makanan lokal yang sesuai dengan selera masa kini.

Di rumah, mbote dapat disajikan sebagai pengganti nasi dengan lauk berupa sayuran, ikan, telur, atau sumber protein lainnya. Umbi yang telah dikukus juga dapat dihaluskan menjadi perkedel. Jika dipotong tipis dan diolah dengan tepat, mbote bisa menjadi keripik untuk camilan keluarga.

Pengolahan menjadi tepung juga berpotensi memperluas penggunaannya. Tepung umbi dapat dimanfaatkan dalam berbagai resep, meskipun karakteristiknya berbeda dari tepung gandum dan tidak selalu dapat menggantikannya secara langsung. Pengembangan produk semacam ini dapat menjadi jalan untuk meningkatkan nilai tambah pangan lokal.

Namun, diversifikasi pangan tidak cukup berhenti pada penciptaan resep baru. Petani juga perlu memperoleh manfaat ekonomi. Pasar harus terbuka bagi hasil panen mereka. Pengetahuan tentang budidaya dan pengolahan perlu diwariskan agar tanaman tersebut tidak hilang dari kehidupan generasi berikutnya.

Di sinilah peran masyarakat menjadi penting. Memasak mbote, mengenalkannya kepada anak-anak, dan membeli hasil panen petani lokal merupakan langkah sederhana untuk menjaga keberadaannya.

Menjaga Tradisi, Merawat Identitas Lokal

Pangan bukan sekadar urusan perut. Di balik sebuah hidangan, terdapat pengetahuan tentang musim tanam, cara memilih bahan, teknik memasak, dan kebiasaan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Merawat tradisi pangan berarti memberi ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan pengetahuannya. Dukungan terhadap petani, pengenalan makanan lokal kepada generasi muda, dan pengembangan pasar dapat membantu menjaga keberlanjutan tanaman pangan.

Langkah tersebut juga perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Tidak semua tanaman cocok ditanam di semua jenis lahan. Oleh karena itu, pelestarian pangan lokal harus tetap mempertimbangkan karakter tanah, ketersediaan air, dan kebutuhan ekosistem.

Menjaga Gambut, Menjaga Pilihan di Meja Makan

Diskusi antara Pantau Gambut dan Food Nation Biodiversity membawa kita pada satu pemahaman penting. Krisis lingkungan dan krisis pangan bukan dua persoalan yang berdiri sendiri.

Ketika gambut rusak dan terbakar, masyarakat menghadapi risiko kehilangan habitat, sumber kehidupan, dan potensi pangan. Ketika konsumsi semakin seragam, kita juga berisiko mengabaikan pengetahuan lokal yang selama ini memudahkan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya di sekitarnya.

Oleh karena itu, menjaga gambut perlu berjalan beriringan dengan upaya merawat keberagaman pangan. Mitigasi karhutla, pemulihan tata air, perlindungan biodiversitas, dan penguatan pangan lokal merupakan bagian dari pekerjaan yang saling berkaitan.

Kita tidak harus langsung mengubah seluruh kebiasaan makan untuk memulainya. Kita bisa mulai dengan mengenali kembali pangan yang tumbuh di sekitar kita. Mbote, sagu, jagung, dan berbagai umbi lokal lainnya layak memperoleh tempat dalam percakapan tentang masa depan pangan Indonesia.

Pada akhirnya, apa yang kita makan akan membawa kita kembali pada pertanyaan yang sederhana, alam seperti apa yang ingin kita wariskan?

Sebab, di balik sepiring nasi maupun sepiring mbote, ada tanah, air, tanaman, dan tangan-tangan manusia yang bekerja untuk menghadirkan makanan. Menjaga semuanya berarti menjaga kemungkinan agar generasi mendatang tetap memiliki pilihan.

Pangan yang beragam tumbuh dari alam yang terjaga. Dan alam yang terjaga membutuhkan pilihan-pilihan yang tidak selalu seragam.

Sumber referensi:

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8660648/

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S111001682200415X 

https://wri-indonesia.org/en/insights/3-types-peatlands-avoid-food-estate-program


https://jurnal.untagsmg.ac.id/index.php/chemtag/article/download/4439/2181 

Mangrove Friwen Raja Ampat
Foto diolah dari Instagram @kawanpesisirr4

Di sebuah kampung yang dikelilingi laut, hutan tidak pernah benar-benar jauh dari dapur. Apa yang tumbuh di pesisir dapat menjadi bagian dari makanan, apa yang hidup di antara akar mangrove bisa menjadi sumber protein, dan apa yang sebelumnya hanya dianggap pohon perlahan menjadi sumber kehidupan.

Cerita itu mengemuka dalam webinar yang digelar Ecoblogger X The Asia Foundation (TAF) pada Jumat, 25 September 2026. Wawiyai Steve, Program Manager Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA), berkali-kali mengungkapkan kekagumannya terhadap peran perempuan dalam pengelolaan mangrove di Kampung Friwen dan Yenbeser.

Menurut Steve, laki-laki sering kali mampu mengerjakan hal-hal dasar, tetapi perempuan punya kemampuan mengurus bagian-bagian yang lebih detail. Dalam konteks masyarakat pesisir, detail itu ternyata sangat menentukan banyak hal.

Dari mengolah bahan pangan, mengelola usaha, menerima pesanan, menjaga kawasan, hingga memikirkan bagaimana hutan tetap bisa dimanfaatkan tanpa kehilangan masa depannya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa mangrove bukan hanya benteng alami dari abrasi atau tempat hidup berbagai biota. Bagi masyarakat Raja Ampat, mangrove juga merupakan ruang hidup, sumber pangan, bahan baku lokal, dan peluang ekonomi.

Ketika Kayu Mangrove Mulai Terdesak Kebutuhan Pariwisata

Perjalanan pengelolaan mangrove oleh PKPRA di Friwen dan Yenbeser, Distrik Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, justru berangkat dari persoalan yang cukup pelik.

Inisiasi masyarakat telah berkembang sejak 2018. Hal ini dilatarbelakangi keresahan terhadap hutan mangrove yang mengalami degradasi akibat pengambilan kayu untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan homestay dan resort.

Pada tahap awal, masyarakat kemudian melakukan pemetaan partisipatif, mengidentifikasi jenis mangrove, dan mulai mendapatkan pelatihan pengolahan produk mangrove sebagai bahan pangan lokal.

Kondisi Hutan Mangrove Doredor di Friwen menunjukkan betapa serius persoalan tersebut. Tutupan mangrove pada periode 2009-2019 mengalami perubahan, dengan tingkat kerusakan pada 2019 mencapai 57 persen atau sekitar 133 hektare dari total 233 hektare. Kerusakan itu dikaitkan dengan kebutuhan pasokan kayu untuk industri pariwisata di Raja Ampat.

Dari situ, muncul pertanyaan yang lebih besar, “Jika masyarakat membutuhkan manfaat ekonomi dari mangrove, apakah manfaat itu harus selalu diperoleh dengan menebang pohonnya?”

Jawaban yang sedang dicoba dibangun masyarakat Friwen dan Yenbeser adalah tidak.

Mangrove yang Masuk ke Dapur

Olahan Pangan Mangrove Friwen
Olahan pangan dari mangrove (Foto: PKPRA)

Salah satu perubahan penting adalah cara masyarakat memandang hasil mangrove. Hutan tidak hanya menyediakan kayu, tetapi juga menyimpan bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan tanpa harus menghilangkan mangrove.

Buah mangrove menjadi salah satu contohnya. Buah Bruguiera gymnorrhiza disebut dapat diolah menjadi tepung sebagai bahan substitusi karbohidrat lokal. Tepung tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai camilan dan makanan, sementara sari buahnya dapat digunakan sebagai bahan minuman tradisional.

Di Friwen, gagasan tersebut lalu berkembang menjadi produk pangan. Buah mangrove atau aibon diolah menjadi tepung dan digunakan sebagai bahan berbagai camilan serta makanan yang ditujukan untuk pasar lokal. Anggota Kelompok Usaha Pertanian Sosial (KUPS) Sinya Lep di Desa Friwen juga mendapatkan pelatihan pengolahan dan peningkatan kualitas produk, termasuk merancang kemasan dan rasa.

Dari bahan dasar itu, muncul beragam kemungkinan olahan, mulai dari tepung, mi berbahan tepung mangrove, hingga kue kering. Ada pula madu mangrove yang memanfaatkan nektar bunga mangrove sebagai sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat pesisir.

Di sinilah nilai mangrove menjadi lebih luas. Satu ekosistem dapat menghasilkan banyak bentuk manfaat, tanpa seluruh nilainya harus diambil dalam bentuk kayu.

Perempuan yang Mengurus Bagian-Bagian Detail

Perempuan Friwen
Perempuan Friwen (Foto: Instagram @kawanpesisirr4)

Bagi masyarakat Friwen, pengolahan produk bukan satu-satunya bentuk keterlibatan perempuan.

Perempuan memiliki andil besar dalam menjaga kawasan hutan mangrove melalui skema Hutan Desa. Aktivitas mereka berkaitan dengan pangan, etnobotani, pasar tradisional, pengambilan daun untuk tikar, berkebun, hingga mencari ikan dan kerang-kerangan.

Perempuan juga terlibat dalam berbagai kelompok pengelolaan, termasuk KUPS Pengolahan Mangrove, KUPS Agroforestry, KUPS Kerajinan Tangan, Kelompok Patroli, dan Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan Perlindungan Mangrove.

Produk yang dihasilkan tidak berhenti pada makanan, tetapi juga mencakup sabun mangrove, minyak kelapa, sayuran yang dijual ke homestay dan resort, hingga produk anyaman dan kerajinan tangan.

Maka, ketika Steve berbicara mengenai perempuan dan pekerjaan detail, gambaran itu terasa dekat dengan keseharian mereka. Ada pekerjaan yang mungkin tidak terlihat ketika orang berbicara tentang konservasi, tetapi justru menentukan apakah sebuah program dapat menjadi kegiatan ekonomi yang bertahan.

Menjaga hutan adalah satu pekerjaan. Memastikan hasil hutan bisa menjadi produk yang layak dijual adalah pekerjaan lain. Keduanya membutuhkan ketelitian.

Membagi Ruang agar Hutan Tidak Habis Dimanfaatkan

Pemanfaatan mangrove tentu tidak berarti semua bagian hutan dapat diambil sesuka hati.

Masyarakat Friwen lalu mendapatkan ruang kelola melalui skema Hutan Desa. Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa Kampung Friwen mencakup kawasan seluas 1.025 hektare yang diperuntukkan bagi Ruang Lindung, Ruang Pemanfaatan, dan Ruang Pemanfaatan Konservasi.

Pengelolaan ini didukung Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), empat KUPS, satu kelompok patroli, dan satu Pokja Perempuan Perlindungan Mangrove.

Pembagian ruang tersebut penting karena memberi batas antara kawasan yang harus dilindungi dan kawasan yang dapat dimanfaatkan.

PKPRA juga menekankan pentingnya pemetaan partisipatif, zona inti, zona pemanfaatan terbatas, serta alokasi ruang tertentu untuk pemanenan buah mangrove dan biota laut. Tujuannya agar aktivitas ekonomi tidak mengganggu fungsi ekologis hutan mangrove primer.

Dengan begitu, konservasi tidak berdiri berseberangan dengan ekonomi. Keduanya justru ditempatkan dalam ruang yang diatur.

Dari Produk Mangrove hingga Jasa Wisata

Pemanfaatan mangrove di Friwen tidak berhenti pada produk pangan.

PKPRA mendorong pengembangan jasa lingkungan dan ekowisata. Kegiatan wisata dikembangkan melalui jalur tracking mangrove, pengamatan burung, hingga pengalaman mengenal ekosistem pesisir.

Dengan model seperti ini, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati laut.

Mereka dapat melihat hutan yang menjadi tempat tumbuh bahan pangan, memahami bagaimana masyarakat mengolahnya, kemudian membawa pulang produk yang memiliki cerita. Mangrove akhirnya tidak hanya menjadi latar belakang pemandangan, tetapi menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Cara tersebut juga didukung melalui kemitraan The Asia Foundation dan PKPRA. Program Pertanian Berkelanjutan/Pengembangan Produk Lokal di Tanah Papua (PAPeDA) 4 dan PAPeDA 5 mencakup penguatan pemahaman tentang Perhutanan Sosial, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas usaha masyarakat, pembangunan jejaring dan kemitraan, serta dorongan terhadap dukungan kebijakan di tingkat daerah.

Keberlanjutannya Masih Menyisakan Pekerjaan Rumah

Di balik cerita tentang tepung, mi, madu, kue kering, dan wisata mangrove, masih ada pertanyaan yang belum sepenuhnya selesai.

Salah satunya adalah kebutuhan terhadap kayu. Pengalaman Friwen dan Yenbeser menunjukkan bahwa pengambilan kayu untuk kebutuhan bangunan pariwisata pernah menjadi salah satu penyebab degradasi mangrove.

Oleh karena itu, selama kebutuhan material bangunan masih ada dan alternatifnya belum sepenuhnya tersedia, tekanan terhadap hutan tetap menjadi persoalan yang harus diperhatikan.

Persoalan lainnya adalah pemasaran.

Produk yang sudah berhasil dibuat belum otomatis mudah mencapai konsumen di luar kampung. Kondisi kepulauan membuat distribusi bergantung pada transportasi laut. Infrastruktur logistik menjadi tantangan, sementara keterbatasan listrik juga dapat membatasi kegiatan produksi dan pemasaran digital.

PKPRA dan The Asia Foundation sendiri menempatkan pembangunan infrastruktur logistik, kemitraan dengan sektor swasta, dan digitalisasi pemasaran sebagai kebutuhan untuk memperluas jangkauan produk turunan mangrove.

Jadi, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar bagaimana membuat produk. Pertanyaannya adalah bagaimana produk tersebut bisa diproduksi secara konsisten, dikirim dengan biaya yang masuk akal, menemukan pasar, dan tetap memberikan keuntungan kepada masyarakat.

Dari Friwen ke Probolinggo, Ketika Pangan Lokal Menjadi Pengetahuan

Ketan Kratok
Ketan kratok (Foto: Cookpad)

Cerita tentang pemanfaatan mangrove ini mengingatkan pada satu pangan lokal di Probolinggo, Jawa Timur, yakni kacang kratok.

Kratok (Phaseolus lunatus), salah satu jenis tanaman kacang-kacangan yang telah lama dibudidayakan dan dimanfaatkan masyarakat. Kratok berpotensi menjadi sumber protein nabati, dengan kandungan protein sekitar 18-35 persen.

Hampir seluruh bagian tanamannya juga memiliki potensi pemanfaatan, mulai dari polong muda sebagai sayuran, hijauan untuk pupuk atau penutup tanah, hingga bijinya sebagai pangan dan pakan.

Namun, kratok menarik bukan hanya karena bijinya. Tanaman ini bisa disebut sebagai tumbuhan serbaguna, karena hampir seluruh bagiannya memiliki potensi pemanfaatan.

Polong mudanya dapat dimasak sebagai sayuran, sementara hijauan dan sisa tanaman dapat dimanfaatkan sebagai pupuk sekaligus penutup tanah (cover crop).

Tanaman kratok juga dikenal toleran terhadap lahan yang kurang subur dan mampu menghasilkan banyak biomassa, sehingga fungsinya tidak berhenti sebagai tanaman pangan.

Oleh karena itu, kratok memiliki peran ganda. Di satu sisi, ia menjadi sumber pangan, di sisi lain membantu fungsi budi daya dan lingkungan. Ia dapat tumbuh di lahan yang relatif kurang subur, menutup permukaan tanah, menghasilkan bahan organik, dan pada saat yang sama menyediakan bahan pangan dari polong maupun bijinya.

Dalam konteks pangan lokal, sifat semacam ini membuat kratok menarik sebagai contoh bagaimana satu tanaman dapat memberikan beberapa manfaat sekaligus.

Bahkan, bagian yang dimanfaatkan sebagai pangan tidak hanya biji tua. Daun dan buah muda kratok juga dapat dikonsumsi, sementara tanaman ini tumbuh sebagai semak atau tanaman merambat dan dapat ditemukan di tepi sungai, kawasan lembap, semak, pagar, hingga pekarangan.

Itulah yang membuat kratok seperti “tumbuhan ajaib”. Satu tanaman dapat berperan sebagai sumber makanan, sayuran, penutup tanah, sekaligus bahan organik untuk mendukung kesuburan lahan.

Nilainya tidak selalu terlihat dari satu bagian yang dipanen, tetapi dari hubungan antara tanaman, lahan, pangan, dan kehidupan masyarakat yang memanfaatkannya.

Di Probolinggo, yang paling lekat dengan masyarakat adalah bijinya. Kacang kratok menjadi campuran ketan dan melahirkan makanan yang dikenal sebagai ketan kratok.

Pangan tersebut bukan sekadar menu sarapan. Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo mencatat ketan kratok telah menjadi bagian dari identitas, keseharian, dan kearifan lokal masyarakat, sehingga pada 2025 mendapatkan rekomendasi sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI). Rantai ekonominya juga melibatkan petani, pengepul, pembuat, dan penjual.

Cara mengolah kratok juga memperlihatkan pentingnya pengetahuan lokal. Proses pengolahan ketan kratok membutuhkan perendaman sekitar satu hari dan empat kali pencucian. Alasannya karena rasanya bisa pahit, sehingga pengolahannya harus dilakukan dengan benar.

Menariknya, kratok juga tidak hanya sebagai campuran ketan. Di Probolinggo, bahan ini telah dikembangkan menjadi berbagai kudapan, seperti lapis kratok dan olahan lainnya.

Ada benang merah yang menarik antara kratok dan mangrove.

Keduanya menunjukkan bahwa pangan lokal bukan sekadar sesuatu yang ditemukan di alam. Ia membutuhkan pengetahuan untuk mengenali, mengambil, mengolah, dan menggunakannya dengan aman. Setelah itu, masyarakat masih perlu menemukan cara agar pangan tersebut memiliki nilai ekonomi sekaligus tetap menjadi bagian dari budaya.

Hutan yang Tetap Berdiri, Pangan yang Tetap Hidup

Cerita Friwen bukan hanya tentang bagaimana masyarakat menemukan produk baru dari mangrove.

Ia adalah cerita tentang upaya mencari keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan perlindungan hutan, antara pariwisata dan daya dukung lingkungan, antara produk lokal dan keterbatasan pasar, serta antara pengetahuan lama dan kebutuhan baru.

Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen, yang terlihat bukan hanya perubahan cara masyarakat memanfaatkan hutan, tetapi juga perubahan cara melihat hutan itu sendiri.

Mangrove tidak harus selalu menghasilkan sesuatu yang bisa ditebang untuk disebut bernilai. Ia dapat menghasilkan madu, buah, tepung, mi, kue, ruang wisata, tempat ikan tumbuh, sekaligus kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan usaha.

Di Friwen, pekerjaan besar itu justru dibangun dari banyak pekerjaan kecil. Mulai dari menanam bibit, menjaga kawasan, mengolah buah, mengemas produk, menerima pesanan, mendampingi wisatawan, hingga melakukan patroli.

Dan mungkin, di situlah masa depan mangrove berada. Bukan pada seberapa banyak yang dapat diambil dari hutan, melainkan pada seberapa lama masyarakat dapat memperoleh kehidupan dari hutan yang tetap berdiri.

Sumber referensi:

  • Kandungan protein kratok.

  • Kratok sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Kota Probolinggo.

Lulusan Perikanan Belajar Data Science
Lulusan Perikanan Belajar Data Science

Saya adalah seorang lulusan Perikanan dan Kelautan yang secara mengejutkan justru menemukan karier di bidang Content Writing. Bayangkan saja, dari menganalisis kandungan nutrisi daging ikan, kini saya sehari-hari berkutat dengan keyword, SEO (Search Engine Optimization), algoritma, dan strategi Digital Marketing. Transisi karier ini memang tak berjalan mulus dan ada satu tembok besar yang selalu saya hindari, yaitu coding, Data Analyst, dan turunannya.

Sebagai seorang Content Writer, saya tahu betul bahwa data adalah “raja” untuk sumber referensi artikel yang kredibel, performa konten, iklan, dan campaign yang sangat ditentukan oleh analisis yang akurat. Apabila ingin melompat lebih jauh dan benar-benar menjadi Digital Marketer atau SEO Specialist yang andal, maka saya tidak bisa lari dari dasar-dasar coding tersebut.

Setiap kali melihat kode pemrograman, HTML, JavaScript, Phyton, R, dan sebagainya, kepala saya langsung berputar-putar. Saya yakin, kamu yang berkarier di bidang non-IT pasti merasakan ketakutan yang sama, di mana menganggap coding hanya untuk engineer yang jenius dan paham kalkulus. Namun, dorongan dari dalam diri saya untuk memahami angka di balik traffic website terlalu kuat. 

Akhirnya, saya memutuskan untuk menantang diri-sendiri. Saya nekat, “Mari kita lihat, seberapa cepat DQLab membuat saya menyerah.” Saya memulainya dengan skeptis, tetapi apa yang terjadi dalam menit-menit pertama benar-benar mengubah cara pandang saya terhadap dunia data dan menghilangkan stigma bahwa coding itu seram.

Membongkar Stigma Coding yang Seram

Ketakutan terbesar saya saat akan memulai perjalanan di DQLab adalah pelajaran teknisnya. Saya membayangkan harus mengunduh software yang menyita banyak memori laptop, mengatur sistem yang rumit, dan berakhir dengan kode yang error. Namun, DQLab memberi kejutan yang mematahkan stigma itu.

Lima menit pertama saya bukan habis untuk menginstal aplikasi apa pun. Yang saya temukan adalah Integrated Code Editor yang langsung siap pakai di browser. Ini adalah kunci mengapa beberapa menit saya menjadi sangat efektif. DQLab menghilangkan pembatas bagi pemula. Saya bisa fokus sepenuhnya pada materi tanpa harus membuang waktu untuk ribut dengan program penerjemah kode.

Menemukan Koneksi antara Logika Peneliti dan Logika Data

Bootcamp Data Analyst DQLab
Bootcamp Data Analyst DQLab

Sebagai lulusan Perikanan dan Kelautan, otak saya terbiasa berpikir sistematis dan analitis dalam menghitung hasil tangkapan hingga mengukur kualitas air tambak. Ternyata, logika ini berkaitan erat dengan Data Science. Di sinilah kurikulum DQLab menunjukkan taringnya. Materi disajikan dalam step-by-step yang logis, sehingga saya bisa mengerti konsep di balik sintaks.

Kurang dari 20 menit, saya sudah diajari cara memanggil data, menggunakan fungsi dasar, dan perhitungan sederhana. BOOM! Angka itu muncul di layar. Ini bukan sekadar berhasil menjawab kuis, tetapi analisis data pertama yang saya lakukan sendiri. Artinya, hal ini membuktikan bahwa logika berpikir analitis dari bidang ilmu mana pun bisa diterapkan asalkan didukung oleh sumber daya yang tepat dan memadai, termasuk alat belajar dari DQLab.

Baca juga: DQLab Bootcamp Data Analyst with Python & SQL

Alur Belajar yang Bikin Ketagihan

Hal yang paling saya hargai dari DQLab adalah metode hands-on yang memaksa saya untuk langsung praktik. Kamu akan menemukan bahwa setiap teori singkat yang disajikan segera diikuti dengan tantangan coding yang harus kamu pecahkan. Hal ini membuat belajar bak bermain puzzle yang seru, bukan membaca kamus yang membosankan.

Bagi seseorang yang sehari-hari berkutat dengan kata-kata sesuai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) seperti saya, transisi coding tak terasa karena fokusnya pada pemecahan masalah dan bukan pada hafalan rumus yang rumit. Selain itu, sistem feedback instan yang ditawarkan DQLab dapat memastikan error segera diperbaiki, sehingga rasa frustrasi tidak sempat mendominasi pikiran saya.

DQLab: Data Analyst Bukan Mimpi, Tapi Langkah Karier Nyata

Dari pesisir dan lautan ke dunia digital, Data Science terbukti bukan lagi ilmu elite milik para engineer. Dengan skill menganalis data, seorang Content Writer seperti saya bisa membuat strategi SEO yang lebih tajam. Apabila saya yang zero knowledge di bidang coding dengan latar belakang Perikanan dan Kelautan saja bisa membuat analisis data pertama dalam beberapa menit, maka kamu juga bisa dengan membayangkan potensi yang dimiliki.

Sekarang, setelah melewati fase pemula, langkah selanjutnya yang paling logis dilakukan adalah meningkatkan skill ke level profesional. Jangan hanya berhenti di basic. Apabila kamu serius ingin mengubah karier atau menajamkan keterampilan Data Analyst, maka saatnya mengambil langkah besar.

Cari tahu lebih lanjut mengenai Bootcamp Data Analyst yang disediakan oleh DQLab. Mereka punya kurikulum yang lengkap, mentor berpengalaman, dan menjamin kamu untuk siap kerja di dunia data. Mari saatnya jadikan diri kamu sebagai Data Analyst yang mampu menghimpun, menganalisis, dan membuat keputusan terkait data!



 

1 - Stefani Teria Salhuteru
Stefani Teria Salhuteru, Penerima Apresiasi Astra SATU Indonesia Awards 2022 Provisi Maluku kategori Lingkungan (Sumber: Situs Moluccas Coastal Care)

Di Maluku, tempat gugusan pulau bagaikan taburan zamrud di khatulistiwa, riak-riak ombak tak pernah lelah menari di antara garis pantai. Cahaya mentari pagi tak henti menyinari perairan jernih yang memeluk Ambon hingga Banda Neira, menjadi saksi bisu kekayaan rempah dan laut yang tak tertandingi. Namun, di balik pesona yang menggugah itu, tersimpan kerentanan, ancaman sampah plastik, erosi, dan krisis iklim perlahan menggerogoti pesisir.

Di tengah perjuangan pelik ini, muncullah satu nama yang menjadi jembatan solusi. Stefani Teria Salhuteru, pendiri Moluccas Coastal Care (MCC) dan penerima Apresiasi Astra SATU Indonesia Awards 2022 Provinsi Maluku kategori Lingkungan.

Stefani adalah seorang sarjana perikanan (S.Pi) yang seharusnya sibuk dengan manajemen tangkapan laut atau biologi ikan. Namun, ketika ia mendirikan Moluccas Coastal Care, solusi yang ia bawa jauh melampaui jaring dan pukat. Dari kantor pusat di Wainitu, Nusaniwe, Kota Ambon, hingga Rumah Belajar di Kampung Baru, Banda Neira, program MCC justru melibatkan kelas seni, penanaman pohon harapan, hingga pembangunan rumah pengering cengkeh.

Stefani menyadari bahwa krisis di pesisir tidak bisa dituntaskan hanya dengan ilmu perikanan, melainkan harus dengan ilmu manusia. Ia menerapkan prinsip sinergi lintas bidang – menggunakan seni untuk edukasi, kearifan lokal untuk mobilisasi, dan ekonomi untuk keberlanjutan. Kisah ini merupakan analisis mendalam tentang bagaimana seorang S.Pi mampu merajut konservasi dan kesejahteraan di Timur Indonesia.

***


Fondasi Sosial dan Tradisi Maluku

Stefani membangun MCC di atas fondasi yang kokoh, yakni budaya lokal. Ia memahami bahwa tanpa persetujuan hati dan kepemilikan komunitas, konservasi alam hanyalah program sementara yang mudah rapuh. Oleh karena itu, program MCC sangat berakar pada kearifan Maluku yang menunjukkan kedalaman analisis sosialnya.


A. Mengorganisir Kearifan: Kalesang School

2 - Kalesang School
Kalesang School (Sumber: Instagram Moluccas Coastal Care)

Inti dari pendidikan MCC ada di Kalesang School (Katong Lestarikan Kampong). Kata Kalesang dalam bahasa lokal berarti peduli atau memelihara. Dengan menjadikan kata ini sebagai nama sekolah, Stefani ingin langsung menanamkan nilai budaya lokal ke dalam kurikulum lingkungan.

Kalesang School bukan sekadar tempat belajar formal. Ini adalah pusat edukasi di desa dan pulau terpencil, tempat anak-anak diajarkan bukan hanya tentang bahaya sampah, tetapi bagaimana menjaga kampong (desa) adalah tradisi yang diwariskan oleh leluhur.

Meskipun sederhana, kurikulum yang diperkenalkan bertujuan jangka panjang guna menumbuhkan sense of belonging yang kuat. Stefani mentransfer pemahaman ilmiah tentang laut menjadi tanggung jawab moral dan budaya demi memastikan konservasi dapat dipandang sebagai bagian dari identitas Maluku, bukan proyek dari luar daerah.


B. Menghidupkan Kembali Penjaga Pesisir: Kewang Muda Maluku

3 - Kewang Muda Maluku
Kewang Muda Maluku (Sumber: Situs Moluccas Coastal Care)

Stefani juga menghidupkan kembali peran adat melalui program Kewang Muda Maluku. Kewang adalah institusi tradisional Maluku yang berperan sebagai penjaga adat hutan dan laut. Kewang mempunyai otoritas lokal untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam (SDA), seperti musim panen, sehingga menjamin keberlanjutan.

Melalui Kewang Muda Maluku, MCC mentransformasi tradisi ini menjadi program pemberdayaan pemuda yang lebih modern. Para pemuda setempat tidak hanya dibekali dengan ilmu konservasi, tetapi juga kepemimpinan. Mereka menjadi generasi penerus “penjaga” yang memahami ilmu perikanan terkini sekaligus menjunjung tinggi hukum adat. Inilah bukti nyata strategi Stefani, ia tidak mengganti tradisi, melainkan memperkuatnya dengan ilmu pengetahuan supaya sesuai dengan perubahan dan ancaman di abad ke-21.

###


Solusi Multidisiplin: Dari Kuas hingga Kesejahteraan

Keunikan MCC terletak pada portofolio programnya yang multi-sektor, di mana mencerminkan pemahaman Stefani bahwa kemiskinan dan ketidakpedulian ekonomi adalah akar dari kerusakan lingkungan di pesisir.


A. Konservasi Emosional dan Aksi Massa

Stefani menemukan bahwa data ilmiah dan larangan konservasi sering kali gagal menyentuh hati. Ia memerlukan strategi yang lebih emosional dan visual.

1. Moluccan Color Art Class

4 - Moluccan Color Art Class
Moluccan Color Art Class (Sumber: YouTube Moluccas Coastal Care)

Seni digunakan sebagai media untuk menanamkan kesadaran lingkungan. Anak-anak di Maluku diajak mengekspresikan imajinasi mereka menggunakan warna, bentuk, dan yang paling penting adalah material daur ulang. Stefani berhasil mengubah sampah, dari masalah menjadi sumber daya kreatif, guna menciptakan siklus di mana aksi lingkungan menghasilkan edukasi yang menyenangkan.


2. Si Kuda Laut dan Kampanye

5 - Si Kuda Laut
Program Si Kuda Laut (Sumber: Instagram Moluccas Coastal Care)

Program aksi bersih-bersih (clean-up) Si Kuda Laut (Clean-Up for Land and Sea) terhubung erat dengan Moluccan Color Art Class. Limbah plastik yang dihimpun dalam aksi ini kemudian menjadi materi seni. Selain itu, kampanye lingkungan (Environmental Campaigns) dan platform diskusi EcoTalk memobilisasi kaum muda dan publik untuk mendialogkan isu lingkungan dengan pemangku kebijakan. Ini menunjukkan kemampuan Stefani dalam melakukan advokasi dan relasi publik yang terstruktur.


B. Mengamankan Ekonomi Petani: Jembatan Perikanan ke Pertanian

Latar belakang pendidikan Stefani di bidang perikanan mengajarkan dirinya tentang rantai makanan yang rapuh. Namun, sebagai seorang yang terdidik dengan gelar Magister Sains (M.Si), ia tahu bahwa konservasi laut tidak akan berhasil jika masyarakat di darat, yang sering kali juga berprofesi sebagai petani rempah tidak sejahtera.

Stefani mengidentifikasi masalah utama di daerahnya, yakni ketahanan pangan dan kualitas produk.

1. Seed House dan Tree of Hope

6 - Program Seed House
Program Seed House (Sumber: Situs Moluccas Coastal Care)

Program Seed House mengembangkan pembibitan tanaman lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan di pulau-pulau terpencil demi meningkatkan kemandirian pangan. Ini sejalan dengan program Tree of Hope untuk restorasi, yang memberikan harapan jangka panjang bagi komunitas dan melindungi daerah tangkapan air.


2. Agricultural Drying House

7 - Agricultural Drying House
Agricultural Drying House (Sumber: Situs Moluccas Coastal Care)

Program ini adalah langkah MCC dalam memitigasi kerusakan pesisir. Drying House bertenaga surya atau rendah teknologi membantu petani dalam meningkatkan mutu dan masa simpan komoditas unggulan Maluku, seperti cengkeh dan kenari. Dengan meningkatkan nilai jual produk, maka ekonomi pertanian menjadi stabil. Ketika ekonomi pertanian stabil, petani tidak lagi merasa tertekan untuk membuka lahan secara sembarangan yang berpotensi menyebabkan erosi, sedimentasi, dan polusi di laut. Artinya, Stefani secara langsung menghubungkan kualitas cengkeh dengan kesehatan pesisir Maluku.

###


Dampak Penghargaan dan Warisan Keterpaduan

8 - Stefani saat Melakukan Advokasi kepada Pemerintah Daerah
Stefani saat Melakukan Advokasi kepada Pemerintah Daerah (Sumber: Instagram Moluccas Coastal Care)

MCC adalah perwujudan konkret dari bagaimana pendidikan tinggi tidak akan pernah sia-sia, asalkan digunakan dengan dedikasi dan komitmen. Stefani menggunakan ilmu perikanan untuk mengetahui apa yang harus dilindungi di Maluku, serta ilmu dari jenjang pascasarjana untuk mengetahui bagaimana cara melindunginya melalui seni, penguasaan, dan ekonomi.


A. Validasi Melalui Apresiasi SATU Astra Indonesia

Pengakuan atas model konservasi yang unik ini datang melalui Apresiasi SATU Astra Indonesia Awards 2022. Penghargaan ini bukan hanya sekadar seremonial, melainkan validasi institusional atas model kerja Stefani. Ini memberikan modal tak ternilai dalam menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah (pemda), mitra korporasi, dan lembaga donor yang semakin mencari program berkelanjutan dan berbasis komunitas.

Penghargaan tersebut menegaskan bahwa kolaborasi multi-sektor yang dibawa MCC untuk menyatukan ketahanan pangan, seni, dan kearifan lokal dalam satu bingkai konservasi adalah jalan benar dan telah diakui secara nasional.


B. Warisan untuk Merajut Kembali Komunitas dan Alam

Moluccas Coastal Care yang berkantor pusat di Ambon dan berakar kuat di Banda Neira merupakan bukti bahwa solusi konservasi alam yang paling efektif ialah model kerja yang paling inklusif. Stefani Salhuteru telah menciptakan sebuah Warisan untuk Merajut Kembali Alam yang menjadi role model bagi para sarjana muda Indonesia, terutama dari kawasan Timur.

Ia menunjukkan bahwa memperjuangkan lingkungan berarti memperjuangkan martabat dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. MCC membuktikan bahwa kepedulian terhadap pesisir di Maluku memerlukan lebih dari sekadar ilmu perikanan, ini membutuhkan hati seorang seniman, kecerdasan seorang yang strategis, dan komitmen seorang pejuang lokal. Warisan ini adalah pesan nyata bahwa perubahan dimulai dari keberanian untuk tidak memilih satu bidang ilmu, tetapi merangkul semuanya demi kebaikan bersama.

***

#kabarbaiksatuindonesia

Referensi:

  • Situs resmi Moluccas Coastal Care. https://moluccascoastalcare.com/.
  • Instagram Moluccas Coastal Care. https://www.instagram.com/moluccas_coastal_care/.
  • YouTube Moluccas Coastal Care. https://www.youtube.com/@moluccascoastalcare.  
Postingan Lama Beranda

Kasih Jajan

Diberdayakan oleh Blogger

Copyright © inimelynda. Designed by OddThemes